Mari Mengenal Bangunan Arsitektur Peninggalan Kolonial Belanda

Halaman ini akan mengajak Anda mengenal bangunan arsitektur peninggalan Kolonial Belanda.

Desain Arsitektur – Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, banyak dari kita sudah diajarkan tentang penjajahan Belanda di Indonesia.

Jalannya masa penjajahan Kolonial Belanda ini memakan waktu yang lama hingga ada banyak segi kehidupan di masyarakat yang diperngaruhi oleh Belanda.

Salah satunya adalah tentang arsitektur atau bangunan. Ya, hingga sekarang, kemungkinan besar Anda masih bisa melihat banyak sekali bangunan peninggalan Belanda.

Banguna tua ini sudah berdiri tersebar di sebagian besar daerah Indonesia. Dan dahulu kala, bangunan tersebut dibangun dengan beragam fungsi.

Pada artikel ini kami senang memberi sedikit penjelasan tentang gaya arsitektur peninggalan Kolonial Belanda di Indonesia.

Salah satu bangunan arsitektur Kolonial Belanda

 

Mengenal Bangunan Arsitektur Peninggalan Kolonial Belanda

Lantas, bagaimana bentuk arsitektur Belanda ini bisa ada? Seperti banyak bangunan Eropa zaman dahulu lainnya, gaya arsitektur peninggalan Kolonial Belanda terinspirasi dari gaya Neo-Klasik yang berasal dari Yunani dan Romawi.

Ciri khas dari bangunan ini terdapat pada bagian tangga naik, bentuk pediment, tympanum yang berada di atas pintu serta jendela yang berperan sebagai hiasan.

Dan menariknya lagi, gaya arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia merupakan hasil adopsi dari perpaduan antara budaya Barat dan Timur.

Memang, gaya arsitektur ini dirancang untuk Bangsa Belanda yang berada di Indonesia sebelum adanya proklamasi kemerdekaan Indonesia.

 

Masa Perkembangan Gaya Arsitektur Zaman Kolonial

Dalam hal perkembangan, setidaknya terdapat 3 periode perkembangan bentuk arsitektur dari Belanda ini, yaitu Indische Empire Style yang berlangsung dari abad 18 – 19 M, Arsitektur Transisi yang berlangsung dari tahun 1890 – 1915 dan yang ketiga adalah arsitektur Kolonial Modern yang berkembang dari 1915 – 1940.

Arsitektur Indische Empire Style (Abad 18 – 19)

Tentu Anda tidak asing dengan nama salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda bernama Herman Willen Daendels.

Seseorang yang mencetuskan pembangunan jalan Anyer – Panarukan ini merupakan sosok dibalik munculnya gaya Arsitektur Indische Empire Style.

Gaya arsitektur ini pertama kali ditemukan pada daerah pinggiran kota Batavia atau Jakarta masa kini. Latar belakang yang mempengaruhi gaya arsitektur ini merupakan percampuran dari 3 budaya, yaitu Belanda, Indonesia dan Cina.

Bentuk bangunan yang mengadopsi gaya arsitektur Indische Empire Style ini memiliki beberapa ciri khas, seperti berikut :

  • Denah berbentuk simetris.
  • Teras dengan ukuran yang sangat luas dan memiliki sentuhan gaya Yunani di barisan kolomnya.
  • Beberapa ruangan seperti dapur, toilet dan Gudang menjadi bangunan yang terpisah dengan bangunan utama rumah.
  • Hadirnya bangunan pavilion yang dimanfaatkan sebagai kamar tidur tamu.

Arsitektur Kolonial Transisi (1890 – 1915)

Diketahui bahwa penerapan gaya arsitektur Kolonial Transisi ini berlangsung sangat singkat, yaitu antara tahun 1890 hingga 1915.

Peralihan zaman ini sangat berpengaruh terhadap perubahan sosial di wilayah Hindia Belanda yang disebabkan oleh modernisasi yang didorong dengan beragam penemuan modern di bidang teknologi.

Selain itu, terdapat juga perubahan dari kebijakan pemerintah Kolonial Belanda. Terdapat beberapa ciri-ciri yang bisa kita temui pada gaya arsitektur ini.

Salah satu bangunan arsitektur Kolonial Belanda dengan atap Pelana

Seperti misalnya bentuk denah rumah yang mirip dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, gevel-gevel, adanya aksen dengan kesan romantic dan juga adanya Menara di pintu masuk utama.

Pada bagian atapnya juga terdapat ciri khusus, seperti penerapan atap Pelana yang diberi tambahan berupa ventilasi pada atap atau dormer.

Arsitektur Kolonial Modern (1915 – 1940)

Suatu fakta yang menarik adalah bahwa gaya arsitektur Kolonial Modern didorong oleh aksi protes dari arsitek Belanda setelah tahun 1900 atas gaya Empire Style.

Pada mulanya, terdapat beberapa penerapan pada gaya arsitektur ini, seperti mempertahankan nuansa klasik serta menambahkan rancangan antisipasi matahari hujan tropis yang biasa mengguyur secara lebat.

Salah satu bentuk arsitektur Belanda dengan denah tidak simetris

Ada pula pencampuran beberapa unsur gaya arsitektur tradisional khas Indonesia. Beberapa ciri khas yang bisa Anda temui adalah bentuk denah yang bervariasi mengikuti perkembangan arsitektur modern.

Selain itu, bentuk kreatifitas dari para arsitek yang menangani pembangunan ini juga turut hadir menghiasi bangunan gaya arsitektur Kolonial Modern.

Lalu ada pula penerapan bentuk asimetris di banyak bagian serta menghilangkan teras keliling bangunan yang sebelumnya pernah diterapkan pada bangunan Kolonial Belanda.

Penutup

Itulah informasi mengenai bangunan arsitektur peninggalan Kolonial Belanda di Indonesia. Nantikan artikel kami selanjutnya.

Leave a Comment